Jumat, 19 Juni 2015

Serial Belajar Tahsin (01): Kewajiban Belajar Tajwid


~ PEMBAGIAN JUZ DALAM AL QURAN ~





  • Juz 1 : QS. (1). Al-Faatihah ayat 1 s/d  (2). Al-Baqarah ayat 141

  • Juz 2 : QS. (2). Al-Baqarah ayat 142 s/d (2). Al-Baqarah ayat 252

  • Juz 3 : QS. (2). Al-Baqarah ayat 253 s/d (3). Al-Imran ayat 92

  • Juz 4 : QS. (3). Al-Imran ayat 93 s/d (4). An-Nisaa ayat 23

  • Juz 5 : QS. (4). An-Nisaa ayat 24 s/d (4). An- Nisaa ayat 147

  • Juz 6 : QS. (4). An-Nisaa ayat 148 s/d (5). Al-Ma’idah ayat 81

  • Juz 7 : QS. (5). Al-Ma’idah ayat 82 s/d (6).Al-An’am ayat 110

  • Juz 8 : QS. (6). Al-An’am ayat 111 s/d (7). Al-A’raf ayat 87

  • Juz 9 : QS. (7). Al-A’raf ayat 88 s/d (8). Al-Anfal ayat 40

  • Juz 10 : QS. (8). Al-Anfal ayat 41 s/d (9). At-Taubah ayat 92

  • Juz 11 : QS. (9). At-Taubah ayat 93 s/d (11). Hud ayat 5

  • Juz 12 : QS. (11). Hud 6 s/d (12). Yusuf  ayat 52

  • Juz 13 : QS. (12). Yusuf ayat 53 s/d (14). Ibrahim ayat 52

  • Juz 14 : QS. (15). Al-Hijr ayat 1 s/d (16). An-Nahl ayat 128

  • Juz 15 : QS. (17). Al-Isra ayat 1 s/d (18). Al-Kahfi ayat 74

  • Juz 16 : QS. (18). Al-Kahfi ayat 75 s/d (20). Thaahaa ayat 135

  • Juz 17 : QS. (21). Al-Anbiyaa ayat 1 s/d (22). Al-Hajj ayat 78

  • Juz 18 : QS. (23). Al-Mu’minun ayat 1 s/d (25). Al-Furqan ayat 20

  • Juz 19 : QS. (25). Al-Furqan ayat 21 s/d (27). An-Naml ayat 55

  • Juz 20 : QS. (27). An-Naml ayat 56 s/d (29). Al-Ankabut ayat 45

  • Juz 21 : QS. (29). Al-Ankabut ayat 46 s/d (33). Al-Azhab ayat 30

  • Juz 22 : QS. (33). Al-Azhab ayat 31 s/d (36). Yaasiiin ayat 27

  • Juz 23 : QS. (36). Yaasiin ayat 28 s/d (39). Az-Zumar ayat 31

  • Juz 24 : QS. (39). Az-Zumar ayat 32 s/d (41). Fushshilat ayat 46

  • Juz 25 : QS. (41). Fushshilat ayat 47 s/d (45). Al-Jaatshiyah ayat 37

  • Juz 26 : QS. (46). Al-Ahqaf ayat 1 s/d (51). Adz-Dzaariyaat ayat 30

  • Juz 27 : QS. (51). Adz-Dzaariyaat ayat 31 s/d (57). Al-Hadid ayat 29

  • Juz 28 : QS. (58). Al-Mujaadilah ayat 1 s/d (66). At-Tahrim ayat 12

  • Juz 29 : QS. (67). Al-Mulk ayat 1 s/d (77). Al-Mursalat ayat 50

  • Juz 30 : QS. (78). An-Nabaa ayat 1 s/d (114). An-Naas 6

Kamis, 18 Juni 2015

# ISLAM MENGANJURKAN UNTUK BEPERGIAN #





Saat aku menulis tulisan ini tepat pada tanggal 1 Ramadhan  1436 H atau Tanggal 18 Juni 2015, dimana umat islam sedang melakukan ibadah puasa pada hari pertama. Sepertinya aktivitas kehidupan kita selama ramadhan serba di batasi, karena tubuh kita dalam keadaan lemas karena sedang menahan lapar dan dahaga saat menjalankan puasa ramadhan yang hukumnya wajib bagi yang orang yang beriman guna menggapai takwa sebagaimana firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 183:

  أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Walapun hukumnya wajib akan tetapi Allah swt memberikan keringanan kepada orang-orang dalam keadaan tertentu seperti yang di jelaskan dalam surat Al Baqarah ayat 184


 
أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Sakit yang bagimana dan perjalanan yang bagimana ?
Dijelaskan Dibolehkan tidak berpuasa bagi orang yang sakit dan musafir dengan ketentuan-ketentuan, apabila sakit itu berat dan akan mempengaruhi keselamatan jiwa atau keselamatan sebagian anggota tubuhnya atau menambah sakitnya bila ia berpuasa; dan juga bagi orang-orang yang musafir, apabila perjalanannya itu dalam jarak jauh, yang ukurannya paling sedikit ialah 16 farsakh (kurang lebih 80 km).

Tentunya setelah ramadhan maka wajib mengganti puasa ramadhan sebanyak hari yang telah ditinggalkannya. 

 Termasuk orang-orang yang berat mengerjakan puasa itu ialah:
a) Orang tua yang tidak mampu berpuasa, bila ia tidak berpuasa diganti dengan fidyah.
b) Wanita hamil dan yang sedang menyusui bayi.
c)  Orang-orang sakit yang tidak sanggup berpuasa dan penyakitnya tidak ada harapan akan sembuh, hanya diwajibkan membayar fidyah.
d)  Mengenai buruh dan petani yang penghidupannya hanya hasil kerja keras dan membanting tulang setiap hari, dalam hal ini ulama fikih mengemukakan pendapat sebagai berikut:
1. Imam Al-Azra`i telah memberi fatwa “sesungguhnya wajib bagi orang-orang pengetam padi dan sebagainya dan yang serupa dengan mereka, berniat puasa setiap malam Ramadhan. Barang siapa (pada siang harinya) ternyata mengalami kesukaran atau penderitaan yang berat, maka ia boleh berbuka puasa. Dan kalau tidak demikian, ia tidak boleh berbuka.”
2.Kalau seseorang yang pencariannya tergantung kepada suatu pekerjaan berat untuk menutupi kebutuhan hidupnya atau kebutuhan hidup orang-orang yang harus dibelanjainya di mana ia tidak tahan berpuasa maka ia boleh berbuka di waktu itu (dengan arti harus berpuasa sejak pagi).
Kemudian pada akhir ayat 184 ini Allah menjelaskan bahwa barang siapa yang dengan rela hati mengerjakan kebajikan dengan membayar fidyah lebih dari ukurannya atau memberinya makan lebih dari seorang miskin, maka perbuatan itu baik baginya. Sesudah itu Allah menutup ayat ini dengan menekankan bahwa berpuasa itu lebih baik daripada tidak berpuasa.
Kalau orangnya sehat dan kaya tidak perbolehkan mengganti puasa ramadhan dengan membayar fidyah. 

Dalam kontek ayat ini, mengapa orang yang dalam perjalanan (safar) diberi keringanan untuk tidak berpuasa di bulan ramdhan ?. Apakah perjalanan zaman dahulu sejauh 80 KM di daerah negeri Arab yang tanahnya tandus dan penuh padang pasir dengan kendaraan onta atau kuda dengan terik matahari yang menyengat tubuh, maka pada waktu itu diperbolehkan untuk tidak berpuasa akan tetapi harus menggantinya setelah bulan ramdhan sebanyak hari yang di tinggalkannya. Hal ini memang bisa dibenarkan, akan tetapi era sekarang yang sudah memasuki zaman teknologi, dimana perjalanan beratus-ratus kilometer hanya bisa ditempuh beberapa jam saja dengan memakai pesawat terbang atau kereta api atau kendaraan yang lainnya. Kita tinggal duduk di ruang ber ac, sambil baca buku maka dalam tempo satu atau dua jam kita telah menempuh perjalanan beratus kilometer. 
Bila kita cermati, ayat perintah puasa yang wajib bisa di tunda pelaksanaanya saat kita sedang dalam perjalanan, hal kini karena maha kemurahan dan kebijaksanaannya Alllah swt. Dibalik itu semuanya ada rahasia yang begitu besar. Islam menganjurkan agar orang dalam hidupnya tidak hanya bergerak dalam satu lingkup saja, akan tetapi Islam menganjurkan agar orang melihat atau mengunjungi bumi Allah yang sangat luas dibelahan bumi manapun untuk bisa saling mengenal lingkungan yang lain, baik keadaan alamnya, cuacanya, sosial kehidupannya masyarakat yang lain, yang semuanya merupakan ke agungan Allah swt. Orang atau bangsa yang besar adalah bangsa atau orang yang senantiasa bergerak ber ekspansi mengarungi samudra yang luas dan buas untuk melakukan pencarian kehidupan yang lebih baik dengan belajar ke negeri orang untuk menimba ilmu dan teknologi bangsa lain yang telah maju. Saling menyambung silaturahmi antar suku dan ras yang berbeda. Sehingga yang diperbolehkan tidak tidak berpuasa di bulan ramadhan ketika sedang dalam perjalanan dengan tujuan untuk kebaikan dan untuk ibadah, akan tetapi bila tujuannya bepergian untuk kemaksiatan maka, akan mendapat azab yang sangat berat.
JADILAH ORANG ISLAM YANG SELALU BERGERAK UNTUK MELIHAT KEBESARAN DAN KEMAHA ESAAN ALLAH YANG TELAH MENCIPTAKAN ALAM DUNIA BESERTA ISINYA.
 

183. Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu[1] agar kamu bertakwa[2], - See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/01/tafsir-al-baqarah-ayat-183-187.html#sthash.R9AzTfey.dpuf
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (١٨٣) أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
- See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/01/tafsir-al-baqarah-ayat-183-187.html#sthash.R9AzTfey.dpuf
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (١٨٣) أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
- See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/01/tafsir-al-baqarah-ayat-183-187.html#sthash.R9AzTfey.dpuf
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (١٨٣) أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
- See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/01/tafsir-al-baqarah-ayat-183-187.html#sthash.R9AzTfey.dpuf
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (١٨٣) أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
- See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/01/tafsir-al-baqarah-ayat-183-187.html#sthash.R9AzTfey.dpuf

Rabu, 17 Juni 2015

DO'A DIBULAN RAMADHAN


 



Aku akan ceriterakan kisah percakapanku dengan guruku kurang lebih lima tahun yang lalu. Suatu malam di bulan ramdhan aku dan guruku yang mulia sedang asyik berbincang-bincang seputar malam lailatul qadr (Pembahasan malam laitul qadr akan dibahas pada sesi yang berikutnya). Pada sesi ini aku akan membicarakan bagaimana cara mendapatkan malam lailatul qadr. Guruku memberikan sebuah amalan yang setiap saat, baik dalam keadaan sehabis shalat atau sedang dalam keadaan beraktivitas sekalipun, misal sedang menyapu lantai, mencuci baju, memasak, mengepel lantai, menyeterika baju, bahkan sedang dalam keadaan bekerja di kantor, dipasar dimana saja berada bibirnya atau hatinya senantiasa berdo'a :

الشهد ان لا اله الّا الله أستغفر الله أسألك الجنّة وأعوذ بك من النّار
اللهمّ إنّك عفوّ تحبّ العفو فاعف عنّى
Asyhadu alla ilaha illallah astaghfirullah asalukaljannata waa’udzubika minannar Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul’afwa fa’fua’anni
Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, saya mohon ampun kepada Allah, saya meminta surga, dan berlindung kepada Allah dari siksa neraka. Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf sebab itu beri maaflah saya.

Kata guruku, amalan ini didapat dari ayahnya guruku. Ayah guruku seorang yang alim dan mempunyai banyak putra dan semuanya menjadi ulama dan kaya-kaya dalam hidupnya. Hampir semua putranya mempunyai pondok pesantren, salah satunya ada di kota Tegal Pondok Pesantren Daarul Hijrah Kota Tegal.

SEMOGA BISA MENGAMALKAN DAN SEMOGA MENDAPAT MALAM LAILATUL QADR ATAU MALAM SERIBU BULAN.


Jumat, 12 Juni 2015

*~ Faktor-faktor yang dapat menjadi penghalang rezeki ~*

  1. Proses pencarian rezeki yang tidak bersih

    Hendaknya dalam mencari rezeki, pastikan semuanya ditempuh dengan cara yang bersih, halal. Proses pencarian rezeki yang halal, akan menghasilkan rezeki yang halal dan berkah.
  2. Hilangnya ketawakalan dalam diri

    Tawakal artinya berserah diri pada Allah SWT. Dalam proses pencarian rezeki, kita hendaknya selalu percaya pada Allah SWT. Sehingga ketika kita mendapati kejadian yang tidak diharapkan dalam proses penjemputan rezeki, kita mengembalikan semua perkara itu Allah SWT untuk mencari hikmahnya, selalu berbaik sangka kepada Allah dan tetap berusaha menjemput rezeki yang baik. Sebagaimana QS. At-Thalaaq 3 yang artinya : Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. 
  3. Perbuatan dosa dan maksiat

    Sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Sesungguhnya seseorang terjauh dari rezeki disebabkan oleh perbuatan dosanya.” (HR. Ahmad). Maka segeralah bertobat dan menjauhi maksiat, agar rezeki kita semakin lancar.
  4. Terlalu sibuk dengan duniawi

    Mencari dunia tidak dilarang. Malahan bagus bila kita mencari dunia, untuk keperluan akherat, misal menampung anak-anak yatim. Namun jangan sampai kesibukan duniawi kita, membuat lalai pada Allah SWT.
  5. Malas bersedekah

    Sedekah adalah salah satu cara memperlancar rezeki. Sedekah sekecil apapun akan dibalas, meski itu sebesar biji sawi. Satu sedekah akan dibalas Allah sebanyak 7 kali, bahkan sampai 700 kali. Firman Allah SWT pada QS. Al-Baqarah 261 : Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. Maka dari itu, ayolah semangat bersedekah, dimulai dengan tetangga sekitar kita yang membutuhkan.
Itulah beberapa sebab yang membuat terhalangnya rezeki. Semoga bermanfaat.

Selasa, 09 Juni 2015

Ringkasan Fiqih Puasa dalam Madzhab Al-Imam Syafi’i


Mafahim: Puasa secara bahasa berarti: Menahan. Menurut istilah syara’  berarti menahan diri  dari sesuatu perkara yang membatalkan puasa, mulai terbit fajar sampai terbenamnya matahari dengan niat tertentu.
Dasar Wajib Puasa
Maksud Firman Allah Ta’ala: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa” (Al Baqarah: 183)
Hikmah Puasa
Antara lain, menahan hawa nafsu, mengurangi syahwat, memberikan pelajaran bagi orang kaya untuk merasakan lapar sehingga menumbuhkan rasa kasih sayang kepada fakir miskin dan menjaga dari maksiat.
Syarat Sah Puasa:
  1. Islam
  2. Berakal
  3. Bersih dari haid/ nifas
  4. Mengetahui waktu diperbolehkan untuk berpuasa
Tidak Sah puasa bagi orang kafir, orang gila walau pun sebentar, perempuan haid atau nifas dan puasa pada waktu yang diharamkan berpuasa, seperti hari raya atau hari tasyriq. Adapun perempuan yang terputus haid atau nifasnya sebelum fajar, maka puasanya tetap Sah dengan syarat telah niat, sekali pun belum mandi sampai pagi.
Syarat Wajib Puasa:
  • Islam: Puasa tidak wajib bagi orang kafir dalam hukum dunia, namun di akhirat mereka tetap akan diadzab karena kekafirannya. Adapun orang murtad, maka  wajib baginya mengqodho’ apabila ia kembali masuk Islam.
  • Mukallaf (baligh dan berakal): Anak yang belum baligh tidak wajib puasa, namun orang tua wajib memerintahkan putra-putrinya berpuasa sejak kecil (7 tahun) dan memukul (sewajarnya) jika meninggalkan puasa saat berumur 10 tahun.
  • Mampu mengerjakan puasa (bukan orang lansia atau orang sakit): Lansia yang tidak mampu berpuasa atau orang sakit yang tidak ada harapan untuk sembuh menurut medis wajib mengganti puasanya dengan membayar fidyah yaitu satu mud (sekitar 6,25 ons) makanan pokok (beras) untuk setiap harinya.
  • Mukim: Tidak wajib bagi Musafir selama ia bepergian sejauh lebih dari 82 km, keluar dari batas kotanya sebelum fajar dan menetap di kota tujuan tidak lebih dari 4 hari.
Rukun-rukun Puasa:
1. Niat: (untuk puasa wajib maupun sunnah), mulai terbenamnya matahari hingga sebelum terbitnya fajar.
Niat (talaffud) puasa Ramadhan:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ اَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ ِللهِ تَعَالَى
“SAYA NIAT MENGERJAKAN KEWAJIBAN PUASA BULAN RAMADHAN ESOK HARI PADA TAHUN INI KARENA ALLAH TA’ALA”.
Niat hendaknya dilakukan setiap malam hari selama bulan Ramadhan. Niat (rukun) dilakukan di dalam hati, tanpa niat (dalam hati) puasanya tidak Sah. Adapun mengucapkan/ talaffud adalah sunnah.
2. Menghindari perkara yang membatalkan puasa, kecuali jika lupa atau dipaksa atau karena kebodohan yang ditolerir oleh syari’at (jahil ma’dzur).
Jahil ma’dzur/ kebodohan yang ditolerir syari’at ada dua:
  • a.  Hidup jauh dari ulama
  • b.  Baru masuk Islam
Hal-hal yang Membatalkan Puasa:
  1. Masuknya sesuatu ke dalam rongga terbuka yang tembus ke dalam tubuh seperti mulut, hidung, telinga dan dua lubang qubul-dubur dengan disengaja, mengetahui keharamannya dan atas kehendak sendiri. Namun jika dalam keadaan lupa, tidak mengetahui keharamannya karena bodoh yang ditolerir atau karena dipaksa, maka puasanya tetap Sah.
  2. Murtad, yakni keluar dari Islam, baik dengan niat dalam hati, perkataan, perbuatan, walau pun perbuatan murtad tersebut sekejap saja.
  3. Haid, nifas dan melahirkan sekali pun sebentar.
  4. Gila meski pun sebentar.
  5. Pingsan dan mabuk (tidak disengaja) sehari penuh. Jika masih ada kesadaran sekali pun sebentar, puasanya tetap Sah.
  6. Bersetubuh dengan sengaja dan mengetahui keharamannya.
  7. Mengeluarkan mani, baik dengan tangan, atau tangan istrinya, atau dengan berhayal, atau dengan melihat (jika dengan berhayal dan melihat itu dia tahu kalau akan mengeluarkan mani), atau dengan tidur berdampingan (bersenang-senang) bersama istrinya. Jika mani keluar dengan salah satu sebab di atas, maka puasanya batal.
  8. Muntah dengan sengaja.
Masalah-masalah yang Berkaitan dengan Puasa:
1. Suami-Istri
Apabila seseorang berhubungan dengan istrinya pada siang hari Ramadhan dengan sengaja, tanpa terpaksa dan mengetahui keharamannya maka puasanya batal, berdosa, wajib menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sampai maghrib dan wajib mengqodho puasanya serta wajib membayar denda kaffarah udzma yaitu:
  • Membebaskan budak perempuan yang islam.
  • Jika tidak mampu, wajib berpuasa dua bulan berturut-turut.
  • Jika tidak mampu, maka wajib memberi makanan pada 60 orang miskin masing-masing berupa 1 mud (sekitar 6,5 ons) dari makanan pokok.
Denda ini wajib dikeluarkan hanya bagi laki-laki saja, karena dengan masuknya kelamin laki-laki, sang wanita sudah menjadi batal puasanya.
2. Hukum Menelan Dahak.
  • Jika telah mencapai batas luar tenggorokan, maka haram menelan dan membatalkan puasanya.
  • Jika masih di batas dalam tenggorokan, maka boleh dan tidak membatalkan puasanya.
Yang dimaksud batas luar tenggorokan menurut pendapat Imam Nawawi (yang mu’tamad) adalah makhroj huruf ha’ (ح) dan dibawahnya adalah batas dalam. Sedangkan menurut sebagian ulama, batas luar adalah makhroj huruf kho’ (خ) dan dibawahnya adalah batas dalam.
3. Menelan Ludah Tidak Membatalkan Puasa dengan Syarat:
  • Murni (tidak tercampur benda lain)
  • Suci
  • Berasal dari sumbernya yaitu lidah dan dalam mulut, sedangkan menelan ludah yang sudah berada pada bibir luar membatalkan puasa.
4. Hukum Masuknya Air Mandi ke Dalam Rongga Tanpa Sengaja:
  • Jika sebab mandi sunnah seperti mandi untuk sholat jum’at atau mandi wajib (janabat) maka tidak membatalkan puasa kecuali jika sengaja atau dengan menyelam.
  • Jika bukan mandi sunnah atau wajib seperti mandi untuk membersihkan badan, maka puasanya batal baik disengaja atau tidak.
5. Hukum Air Kumur yang Tertelan Tanpa Sengaja:
  • Jika berkumur untuk kesunnahan seperti dalam wudhu’, tidak membatalkan puasa asalkan tidak terlalu ke dalam (mubalaghoh).
  • Jika berkumur biasa, bukan untuk kesunnahan maka puasanya batal secara mutlak, baik terlalu ke dalam (mubalaghoh) atau tidak.
6. Muntah atau Dalam Mulut Berdarah
Orang yang muntah atau dalam mulutnya berdarah wajib berkumur dengan mubalaghoh (membersihkan hingga ke pangkal tenggorokan) agar semua bagian mulutnya suci. Apabila ia menelan ludah tanpa mensucikan mulutnya dari sisa muntah, maka puasanya batal.
7. Membatalkan Puasa atau Tidak Niat
Orang yang sengaja membatalkan puasanya (alasan syar’i) atau tidak berniat di malam hari, wajib menahan diri di siang hari Ramadhan dari perkara yang membatalkan puasa (selayaknya orang puasa) sampai maghrib dan setelah Ramadhan wajib mengqodho puasanya.
8. Berbagai konsekuensi bagi orang yang tidak berpuasa atau membatalkan puasa Ramadhan:
A. WAJIB QODHO’ DAN MEMBAYAR DENDA
  • Jika membatalkan puasa demi orang lain. Seperti perempuan mengandung dan menyusui yang tidak puasa karena kuatir pada kesehatan anaknya saja.
  • Mengakhirkan qodho’ puasanya hingga datang Ramadhan lagi tanpa ada uzur.
B. WAJIB QODHO’ TANPA DENDA
  • Berlaku bagi orang yang tidak berniat puasa di malam hari
  • Orang yang membatalkan puasanya dengan selain jima’ (bersetubuh)
  • Perempuan hamil atau menyusui yang tidak puasa karena kuatir pada kesehatan dirinya saja atau kesehatan dirinya dan anaknya.
C. WAJIB DENDA TANPA QODHO’
  • Berlaku bagi orang lanjut usia tidak mampu berpuasa.
  • Orang sakit yang tidak punya harapan sembuh, ia tidak mampu berpuasa.
D. TIDAK WAJIB QODHO’ DAN TIDAK WAJIB DENDA
  • Berlaku bagi orang yang kehilangan akal/ gila yang permanen atau tidak mengalami kesembuhan.
Yang dimaksud DENDA di sini adalah FIDYAH, 1 mud (6,5 ons) makanan pokok daerah setempat (beras) untuk setiap harinya.
Hal-hal yang Disunnahkan dalam Puasa Ramadhan
  1. Menyegerakan berbuka puasa.
  2. Makan Sahur.
  3. Mengakhirkan sahur, dimulai dari tengah malam.
  4. Berbuka dengan kurma (ruthab) + dengan bilangan ganjil. Bila tidak ada kurma, dengan air zam zam/ air putih. Atau dengan makanan manis alami (yang belum tersentuh oleh api/ dimasak), misal: madu, kismis dan sejenisnya.
  5. Membaca doa saat berbuka puasa.
  6. Memberi makanan berbuka pada orang yang berpuasa.
  7. Mandi janabat sebelum terbitnya fajar bagi orang yang junub di malam hari.
  8. Mandi setiap malam di bulan Ramadhan.
  9. Menekuni sholat tarawih dan witir.
  10. Memperbanyak bacaan Al Qur’an dengan tadabbur.
  11. Memperbanyak amalan sunnah dan amal sholeh.
  12. Meninggalkan caci maki.
  13. Berusaha makan dari yang halal.
  14. Bersungguh-sungguh di sepuluh hari terakhir.
HAL-HAL YANG DIMAKRUHKAN DALAM PUASA RAMADHAN
  1. Mencicipi makanan.
  2. Bekam (mengeluarkan darah).
  3. Banyak tidur dan terlalu kenyang.
  4. Mandi dengan menyelam.
  5. Memakai siwak setelah masuk waktu duhur.
HAL-HAL YANG MEMBATALKAN PAHALA PUASA (MUHBITHAAT)
  1. Ghibah (gossip).
  2. Adu domba.
  3. Berbohong.
  4. Memandang hal-hal yang haram atau pun halal, namun dengan syahwat.
  5. Sumpah palsu.
  6. Berkata jorok atau melakukan perbuatan jelek.
Catatan tambahan dan soal-jawab seputar puasa.
Untuk menentukan awal Bulan Ramadhan dan 1 Syawwal (Lebaran Idul Fitri) dianjurkan mengikuti keputusan Pemerintah Pusat. Dalam hal ini adalah Majlis Ulama Indonesia (MUI), melalui sidang Itsbat, yang anggotanya terdiri dari pakar-pakar Islam yang kredibel dalam ilmu ru’yah maupun hisab. Dengan demikian umat Islam Indonesia dapat bersatu dan tidak terpecah belah.
  • Soal: Bagaimana hukumnya orang yang berpuasa melakukan cek golongan darah, dengan sedikit melukai kulit?
  • Jawab : Boleh dan Puasanya Sah.
  • Soal : Bagaimana hukumnya orang yang berpuasa melakukan infus/ memasukan makanan melalui pembuluh darah?
  • Jawab : Tidak Boleh dan Puasanya Batal.
  • Soal : Bagaimana hukumnya berpuasa melakukan suntik atau bius lokal?
  • Jawab : Boleh dan Puasanya Sah selama cairan tidak mengalir ke saluran makanan (pencernaan).
  • Soal : Bagaimana hukumnya berpuasa melakukan donor darah atau mengambil darah untuk cek laboratorium termasuk hijamah (bekam)?
  • Jawab : Hukumnya makruh dan Puasanya Sah.

Kamis, 04 Juni 2015

# KEUTAMAAN SHALAT SUNAH #

 
Dari Ummu Habibah –istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-, Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« مَنْ صَلَّى اثْنَتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِى يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِىَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِى الْجَنَّةِ  
“Barangsiapa mengerjakan shalat sunnah dalam sehari-semalam sebanyak 12 raka’at, maka karena sebab amalan tersebut, ia akan dibangun sebuah rumah di surga.” 
Coba kita lihat, bagaimana keadaan para periwayat hadits ini ketika mendengar hadits tersebut. Di antara periwayat hadits di atas adalah An Nu’man bin Salim, ‘Amr bin Aws, ‘Ambasah bin Abi Sufyan dan Ummu Habibah –istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang mendengar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara langsung. 
Ummu Habibah mengatakan, Aku tidak pernah meninggalkan shalat sunnah dua belas raka’at dalam sehari sejak aku mendengar hadits tersebut langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. ” 
‘Ambasah mengatakan,“Aku tidak pernah meninggalkan shalat sunnah dua belas raka’at dalam sehari sejak aku mendengar hadits tersebut dari Ummu Habibah.” 
‘Amr bin Aws mengatakan,“Aku tidak pernah meninggalkan shalat sunnah dua belas raka’at dalam sehari sejak aku mendengar hadits tersebut dari ‘Ambasah.” 
An Nu’man bin Salim mengatakan,“Aku tidak pernah meninggalkan shalat sunnah dua belas raka’at dalam sehari sejak aku mendengar hadits tersebut dari ‘Amr bin Aws.”[5] 
Yang dimaksudkan dengan shalat sunnah dua belas raka’at dalam sehari dijelaskan dalam riwayat At Tirmidzi, dari ‘Aisyah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنَ السُّنَّةِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ 
“Barangsiapa merutinkan shalat sunnah dua belas raka’at dalam sehari, maka Allah akan membangunkan bagi dia sebuah rumah di surga. Dua belas raka’at tersebut adalah empat raka’at sebelum zhuhur, dua raka’at sesudah zhuhur, dua raka’at sesudah maghrib, dua raka’at sesudah ‘Isya, dan dua raka’at sebelum shubuh.”
Hadits di atas menunjukkan dianjurkannya merutinkan shalat sunnah rawatib sebanyak 12 raka’at setiap harinya.
Dua belas raka’at rawatib yang dianjurkan untuk dijaga adalah: [1] empat raka’at sebelum Zhuhur, [2] dua raka’at sesudah Zhuhur, [3] dua raka’at sesudah Maghrib, [4] dua raka’at sesudah ‘Isya’, [5] dua raka’at sebelum Shubuh. 
Shalat Qobliyah Shubuh Jangan Sampai Ditinggalkan 
Shalat sunnah qobliyah shubuh atau shalat sunnah fajr memiliki keutamaan sangat luar biasa. Di antaranya disebutkan dalam hadits ‘Aisyah,
رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا 
“Dua raka’at sunnah fajar (qobliyah shubuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.”[9] 
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersemangat melakukan shalat ini, sampai-sampai ketika safar pun beliau terus merutinkannya. 
‘Aisyah mengatakan,
لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - عَلَى شَىْءٍ مِنَ النَّوَافِلِ أَشَدَّ مِنْهُ تَعَاهُدًا عَلَى رَكْعَتَىِ الْفَجْرِ 
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah memiliki perhatian yang luar biasa untuk shalat sunnah selain shalat sunnah fajar.”

Lalu apa hukum shalat sunnah setelah subuh, sebelum jumat, setelah ashar, sebelum maghrib, dan sebelum isya?

Jawab: Adapun dua rakaat sebelum maghrib dan sebelum isya, maka dia tetap disunnahkan dengan dalil umum:

Dari Abdullah bin Mughaffal Al Muzani dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ قَالَهَا ثَلَاثًا قَالَ فِي الثَّالِثَةِ لِمَنْ شَاءَ “Di antara setiap dua adzan (azan dan iqamah) itu ada shalat (sunnah).” Beliau mengulanginya hingga tiga kali. Dan pada kali yang ketiga beliau bersabda, “Bagi siapa saja yang mau mengerjakannya.” (HR. Al-Bukhari no. 588 dan Muslim no. 1384)

Namun memang ini masuk pada khilafiyah, sebagian para Muhaddits tak mengelompokkannya sebagai shalat rawatib, karena Rasul saw tak selalu melakukannya, dan banyak para sahabat sepeninggal Rasul saw tak melakukannya, ini menunjukkan bahwa hal itu bukan hal yg selalu dilakukan oleh Rasul saw, (Fathul Baari Almasyhur Juz 3 hal 59)

Adapun setelah subuh dan ashar, maka tidak ada shalat sunnah rawatib saat itu. Bahkan terlarang untuk shalat sunnah mutlak pada waktu itu, karena kedua waktu itu termasuk dari lima waktu terlarang. Dari Ibnu ‘Abbas dia berkata:

شَهِدَ عِنْدِي رِجَالٌ مَرْضِيُّونَ وَأَرْضَاهُمْ عِنْدِي عُمَرُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصُّبْحِ حَتَّى تَشْرُقَ الشَّمْسُ وَبَعْدَ الْعَصْرِ حَتَّى تَغْرُبَ “Orang-orang yang diridlai mempersaksikan kepadaku dan di antara mereka yang paling aku ridhai adalah ‘Umar, (mereka semua mengatakan) bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang shalat setelah Shubuh hingga matahari terbit, dan setelah ‘Ashar sampai matahari terbenam.” (HR. Al-Bukhari no. 547 dan Muslim no. 1367)

owh iya, jangan lupa juga untuk melakukan sholat sunnah tahiyatul Masjid sebelum duduk ketika masuk ke dalam Masjid, mushola, langgar.

Dari Abu Qatadah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Apabila salah seorang dari kalian masuk masjid, janganlah duduk sehingga shalat dua raka’at.” (HR. Jama’ah Ahli Hadits)

 Dari Ummu Habibah, beliau mengatakan bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Barangsiapa menjaga shalat 4 rakaat sebelum zhuhur dan 4 rakaat sesudahnya, maka Allah mengharamkan neraka baginya.(HR. Tirmidzi no. 428 dan Ibnu Majah no. 1160


KEUTAMAAN EMPAT RAKAAT SEBELUM ASHAR
Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi rahimahullah (pernah jadi Mufti KSA bagian selatan) berkata dengan sanad yang bersambung sampai kepada Imam Asy-Syaukani rahimahullah dalam Nailul Authar, beliau berkata :
ﻋَﻦِ ﺍﺑْﻦِ ﻋُﻤَﺮَ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻤَﺎ ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ e ﻗَﺎﻝَ ((:ﺭَﺣِﻢَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺍﻣْﺮَﺃً ﺻَﻠَّﻰ
ﻗَﺒْﻞَ ﺍﻟﻌَﺼْﺮِ ﺃَﺭْﺑَﻌﺎً )). ﺭَﻭَﺍﻩُ ﺃَﺣْﻤَﺪُ ﻭَﺃَﺑُﻮْ ﺩَﺍﻭُﺩَ ﻭَﺍﻟﺘِّﺮْﻣِﺬِﻱُ
"Dari ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : 'Allah merahmati orang yang shalat empat rakaat sebelum Ashar”.
(HR. Ahmad, Abu Daud dan At-Tirmidzi)
Asy-Syaukani berkata : “Hadits ini dihasankan oleh At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah.
Asy-Syaukani berkata : “Dalam hal ini terdapat hadits dari Ali radhiyallahu ‘anhu riwayat Ahlus-Sunan (Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasa'i, dan Ibnu Majah) dengan lafazh :
(( ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ e ﻳُﺼَﻠِّﻲ ﻗَﺒْﻞَ ﺍﻟﻌَﺼْﺮِ ﺃَﺭْﺑَﻊَ ﺭَﻛَﻌَﺎﺕٍ ﻳَﻔْﺼِﻞُ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻦَّ ﺑِﺎﻟﺘَّﺴْﻠِﻴْﻢِ ­ )).
Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat empat rakaat sebelum Ashar dengan memisahkan diantaranya dengan salam (yaitu dua rakaat lalu salam, kemudian dua rakat
lalu salam).
At-Tirmidzi, An-Nasa'i dan Ibnu Majah menambahkan :
(( ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻤَﻼَﺋِﻜَﺔِ ﺍﻟﻤُﻘَﺮَّﺑِﻴْﻦَ ﻭَﻣَﻦْ ﺗَﺒِﻌَﻬُﻢْ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻤُﺴْﻠِﻤِﻴْﻦَ ﻭَﺍﻟﻤُﺆْﻣِﻨِﻴْﻦ((َ .
Atas para malaikat yang didekatkan dan orang-orang yang mengikuti mereka dari kaum mukminin dan mislimin.
Dan Asy-Syaukani menyebutkan riwayat lain yang semakna dengan hadits ini, yaitu dari Ali pada riwayat Ath-Thabarani di dalam Al-Ausath, dan dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash pada riwayat Ath-Thabarani di dalam Al-Kabir dan Al-Ausath secara marfu’ dengan lafazh :
(( ﻣَﻦْ ﺻَﻠَّﻰ ﺃَﺭْﺑَﻊَ ﺭَﻛَﻌَﺎﺕٍ ﻗَﺒْﻞَ ﺍﻟﻌَﺼْﺮِ ﻟَﻢْ ﺗَﻤَﺴَّﻪُ ﺍﻟﻨَّﺎﺭُ)).
“Barangsiapa shalat empat rakaat sebelum Ashar, tidak akan disentuh oleh Neraka”.
Dan dari Abu Hurairah pada riwayat Abu Nu’aim, dia berkata : Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda :
(( ﻣَﻦْ ﺻَﻠَّﻰ ﺃَﺭْﺑَﻊَ ﺭَﻛَﻌَﺎﺕٍ ﻗَﺒْﻞَ ﺍﻟﻌَﺼْﺮِ ﻏَﻔَﺮَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻟَـﻪُ)).
“Barangsiapa shalat empat rakaat sebelum Ashar, maka Allah mengampuninya”.
Dan dari Ummu Habibah riwayat Abu Ya’la dengan lafazh :
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
(( ﻣَﻦْ ﺣَﺎﻓَﻆَ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﺭْﺑَﻊِ ﺭَﻛَﻌَﺎﺕٍ ﻗَﺒْﻞَ ﺍﻟﻌَﺼْﺮِ ﺑَﻨَﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻟَـﻪُ ﺑَﻴْﺘﺎً ﻓِﻲ ﺍﻟﺠَﻨَّﺔِ)).
“Barangsiapa menjaga shalat empat rakaat sebelum Ashar, Allah bangunkan untuknya rumah di surga”.
Dan dari Ummu Salamah pada riwayat Ath-Thabarani di dalam Al-Kabir dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda :
(( ﻣَﻦْ ﺻَﻠَّﻰ ﺃَﺭْﺑَﻊَ ﺭَﻛَﻌَﺎﺕٍ ﻗَﺒْﻞَ ﺍﻟﻌَﺼْﺮِ ﺣَﺮَّﻡَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺑَﺪَﻧَﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ)).
“Barangsiapa shalat empat rakaat sebelum Ashar, Allah haramkan badannya dari neraka”.
Asy-Syaukani berkata : “Hadits-hadits tersebut menunjukkan mustahabnya shalat empat rakaat sebelum ashar, doa rahmat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bagi yang mengerjakannya dan pengharaman badannya dari neraka bagi yang berlomba-lomba mengerjakannya”.
Syaikh An-Najmi berkata : "Sesungguhnya
secara keseluruhan hadits-hadits ini menunjukkan kandungannya yang shahih. Maka seyogyanya seorang muslim memanfaatkan berbagai kesempatan yang terdapat keutamaan padanya dan tidak menyia-nyiakannya.