Senin, 22 Juni 2015

~oOo~ SHALAT ISROQ ~oOo~



 
  Bismillah...
Bila kita belum bisa umrah atau haji. Kita bisa melakukan dengan melakukan shalat isroq yang pahalanya senilai dengan umrah dan haji. Ini caranya.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ »
Barangsiapa yang shalat subuh berjamaah, kemudian dia duduk – dalam riwayat lain: dia menetap di mesjid[1] – untuk berzikir kepada Allah sampai matahari terbit, kemudian dia shalat dua rakaat, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala haji dan umrah, sempurna sempurna sempurna[2].
Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan duduk menetap di tempat shalat, setelah shalat shubuh berjamaah, untuk berzikir kepada Allah sampai matahari terbit, kemudian melakukan shalat dua rakaat[3].
Faidah-faidah penting yang terkandung dalam hadits ini:
  • Shalat dua rakaat ini diistilahkan oleh para ulama[4] dengan shalat isyraq (terbitnya matahari), yang waktunya di awal waktu shalat dhuha[5].
  • Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “… sampai matahari terbit“, artinya: sampai matahari terbit dan agak naik setinggi satu tombak[6], yaitu sekitar 12-15 menit setelah matahari terbit[7], karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang shalat ketika matahari terbit, terbenam dan ketika lurus di tengah-tengah langit[8].
  • Keutamaan dalam hadits ini lebih dikuatkan dengan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, dari Jabir bin Samurah radhiyallahu anhu: bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika selesai melakukan shalat shubuh, beliau duduk (berzikir) di tempat beliau shalat sampai matahari terbit dan meninggi”[9].
  • Keutamaan dalam hadits ini adalah bagi orang yang berzikir kepada Allah di mesjid tempat dia shalat sampai matahari terbit, dan tidak berbicara atau melakukan hal-hal yang tidak termasuk zikir, kecuali kalau wudhunya batal, maka dia boleh keluar mesjid untuk berwudhu dan segera kembali ke mesjid[10].
  • Maksud “berzikir kepada Allah” dalam hadits ini adalah umum, termasuk membaca al-Qur’an, membaca zikir di waktu pagi, maupun zikir-zikir lain yang disyariatkan.
  • Pengulangan kata “sempurna” dalam hadits ini adalah sebagai penguat dan penegas, dan bukan berarti mendapat tiga kali pahala haji dan umrah[11].
  • Makna “mendapatkan (pahala) seperti pahala haji dan umrah” adalah hanya dalam pahala dan balasan, dan bukan berarti orang yang telah melakukannya tidak wajib lagi untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah jika dia mampu.

Minggu, 21 Juni 2015

~* SHALAT TEPAT WAKTU *~






Bimillah...
Kebanyakan manusia lebih takut sama perintah manusia ketimbang takut perintah Allah. Hal ini bisa dibuktikan. Ketika azan berkumandang yang merupakan perintah Allah untuk segera menunaikan ibadah shalat wajib, akan tetapi manusia masih asyik dengan pekerjaanya yang sedang dikerjakannya yang itu semua merupakan perintah manusia, baik itu atasan dalam kerjanya. Takut tidak bisa selesai dengan baik, takut kondite nya bisa menurun, takut tidak dinilai trampil ujung-ujungnya takut dipecat karena hasil kerjanya tidak baik dan tidak tepat waktu. Bahkan rasanya tidak enak sekali, bila tiba-tiba suara azan berkumandang kita dalam keadaan masih rapat atau meeting dengan bosnya, mau keluar ruangan untuk shalat rasanya takut. Kebanyakan manusia lebih takut sama manusia ketimbang sama Allah, yang hakekatnya Allah pemilik alam jagad raya ini.

Perhatikan hadist ini ;
مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ فَلاَ صَلاَةَ لَهُ إِلاَّ مِنْ عُذْرٍ.
“Barangsiapa yang mendengar adzan tapi tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya kecuali karena udzur.”

Pernah dikatakan kepada Ibnu Abbas , “Apa yang dimaksud dengan udzur itu?” ia menjawab, “Takut atau sakit.” Dalam Shahih Muslim, dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu dari Nabi Shalallaahu alaihi wasalam , bahwa beliau didatangi oleh seorang laki-laki buta, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, tidak ada orang yang menuntunku pergi ke masjid. Apakah aku punya rukhshah untuk shalat di rumahku?” kemudian beliau bertanya,
هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلاَةِ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَأَجِبْ.
“Apakah engkau mendengar seruan untuk shalat?” ia menjawab, “Ya”, beliau berkata lagi, “Kalau begitu, penuhilah.”
Orang yang buta saja dan tidak ada yang menuntun untuk pergi ke mesjid diperintahkan untuk memenuhi panggilan shalat bila masih bisa mendengar suara azan, tentunya dengan jalan yang tertatih-tatih dengan tongkatnya. Ini menunjukkan betapa SANGAT PENTINGNYA SHALAT WAJIB. Lantas kita yang diberi karunia dengan mata yang bisa melihat, badan yang sehat, ketika kita mendengar suara azan, hatinya tidak tergerak untuk segera menunaikan perintah Allah yang wajib ?. Dengan alasan hanya semuanya untuk kepentingan dunia yang fana ini, yang bila meninggal tiak akan dibawa. 
  
Perhatikanlah firman Allah, yang artinya “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al-Maa’uun: 4-5)
Al-Haafidz Ibnu Katsir rahimahullahu ta’ala berkata, yang dimaksud orang-orang yang lalai dari shalatnya adalah:
  1. Orang tersebut menunda shalat dari awal waktunya sehingga ia selalu mengakhirkan sampai waktu yang terakhir.
  2. Orang tersebut tidak melaksanakan rukun dan syarat shalat sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  3. Orang tersebut tidak khusyu’ dalam shalat dan tidak merenungi makna bacaan shalat.
Dan siapa saja yang memiliki salah satu dari ketiga sifat tersebut maka ia termasuk bagian dari ayat ini (yakni termasuk orang-orang yang lalai dalam shalatnya).
Sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam ,

إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ.
“Sesungguhnya (pembatas) antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.”
SEMOGA KITA BISA MENJAGA SHALAT WAJIB KITA DENGAN TEPAT WAKTU....


Ilmu akan Membasahi Jiwamu yang Kering….



~ JIWA ATAU RUHNYA SHALAT ~






Jiwa atau ruhnya shalat adalah IKHLAS ,KHUSYU' dan HADIR HATI

IKHLAS
Kata abdul Qasim Abdul Karim Al Qusyairy dalam Risalahnya :
"Ikhlas itu, menentukan tha'at (ibadat) untuk Tuhan yang haq saja" (Membulatkan tujuan dalam beribadat hanya kepada Allah semata). Maksudnya adalah mengerjakan ibadah , semata-mata karena hendak mendekatkan diri kepada Allah semesta alam, bukan karena mengharap sanjungan atau pujian dan sanjungan dari manusia. Sehingga ikhlas merupakan pembersihan amal ibadah dari perhatian manusia.

Kata Abu 'Ali ad-Daqqaq:
"Ikhlas itu, ialah memelihara ibadah dari perhatian manusia Dan benar itu ialah: bersih hati dari mengikuti hawa nafsu"

Tegasnya orang yang mukhlis, tak ada ria dalam mengerjakan ibadah. Dengan demikian Ikhlas ialah bersamaan perbuatan DHOHIR dan BATHIN  dalam beibadah semata-mata mencari ridho Allah


KHUSYU
1. Kata setengah ulama : "Khusyu ialah memejamkan mata/penglihatan
    dan merendahkan suara.
2. Kata Ali bin Abi Thalib r.a :"Khusyu ialah tiada berpaling kekanan
    dan kekiri dalam shalat".
3. Kata Amru ibnu Dinar: " Khusyu ialah tenang dan bagus kelakuan"
4. Kata Ibnu Sirin : "Khusyu ialah tiada mengangkat pandangan dari tempat sujud"
5. Kata Ibnu Jabir :"Khusyu ialah tetap mengarahkan pikiran kepada shalat
    hingga tiada mengetahui orang sebelah kanan dan kiri"
6. Kata "Atha : "Khusyu ialah : "Tiada mempermain-mainkan tangan,
     tiada memegang-megang badan dalam shalat"

Dengan keterangan diatas maka pengertia khusyu adalah :
AMALAN BADAN, seperti tenang. AMALAN HATI sama dengan TAKUT. Menurut pentahqiqan : "Khusyu adalah amalan hati; suatu keadaan (kelakuan) yang mempengaruhi jiwa, yang tercermin dalam wujud anggota badan seperti tenang dan menundukan diri.
Nabi bersabda:
"Sekiranya khusyu hati-jiwa ini, tentulah khusyu segala anggotanya" (H.R. Al Hakim, At Turmudzy dari Abu Hurairah, Al-Jamius Shaghier, Jilid 2, Halaman 108)

Tegasnya khusuk ialah : "Tunduk dan tawadlu, serta BERKETENANGAN HATI dan segala anggota badan kepada Allah"
Sedangkan pengertan TAKUT AKAN ALLAH dalam shalat ialah merasa benar-benar akan Kekuasaan Allah dan akan kekuatan-Nya dan ketembusan iradat-Nya atau Kehendak-Nya.

HADIR HATI
Hadir hati dalam shalat ialah memusatkan segala pikiran kepada yang dikerjakan (shalat) tiada berpaling kepada yang lainnya. Jangan sampai ketika shalat akan tetapi hatinya kemana-mana, yakinkan bahwa Allah melihat semua gerak-gerik kita.

SEMOGA BISA KHUSYU DALAM SHALAT.....JANGAN PUTUS ASA BILA BELUM DIDAPAT...STEP BY STEP...DALAM MERAIH KEKHUSYUAN DALAM SHALAT....

Jumat, 19 Juni 2015

Serial Belajar Tahsin (01): Kewajiban Belajar Tajwid


~ PEMBAGIAN JUZ DALAM AL QURAN ~





  • Juz 1 : QS. (1). Al-Faatihah ayat 1 s/d  (2). Al-Baqarah ayat 141

  • Juz 2 : QS. (2). Al-Baqarah ayat 142 s/d (2). Al-Baqarah ayat 252

  • Juz 3 : QS. (2). Al-Baqarah ayat 253 s/d (3). Al-Imran ayat 92

  • Juz 4 : QS. (3). Al-Imran ayat 93 s/d (4). An-Nisaa ayat 23

  • Juz 5 : QS. (4). An-Nisaa ayat 24 s/d (4). An- Nisaa ayat 147

  • Juz 6 : QS. (4). An-Nisaa ayat 148 s/d (5). Al-Ma’idah ayat 81

  • Juz 7 : QS. (5). Al-Ma’idah ayat 82 s/d (6).Al-An’am ayat 110

  • Juz 8 : QS. (6). Al-An’am ayat 111 s/d (7). Al-A’raf ayat 87

  • Juz 9 : QS. (7). Al-A’raf ayat 88 s/d (8). Al-Anfal ayat 40

  • Juz 10 : QS. (8). Al-Anfal ayat 41 s/d (9). At-Taubah ayat 92

  • Juz 11 : QS. (9). At-Taubah ayat 93 s/d (11). Hud ayat 5

  • Juz 12 : QS. (11). Hud 6 s/d (12). Yusuf  ayat 52

  • Juz 13 : QS. (12). Yusuf ayat 53 s/d (14). Ibrahim ayat 52

  • Juz 14 : QS. (15). Al-Hijr ayat 1 s/d (16). An-Nahl ayat 128

  • Juz 15 : QS. (17). Al-Isra ayat 1 s/d (18). Al-Kahfi ayat 74

  • Juz 16 : QS. (18). Al-Kahfi ayat 75 s/d (20). Thaahaa ayat 135

  • Juz 17 : QS. (21). Al-Anbiyaa ayat 1 s/d (22). Al-Hajj ayat 78

  • Juz 18 : QS. (23). Al-Mu’minun ayat 1 s/d (25). Al-Furqan ayat 20

  • Juz 19 : QS. (25). Al-Furqan ayat 21 s/d (27). An-Naml ayat 55

  • Juz 20 : QS. (27). An-Naml ayat 56 s/d (29). Al-Ankabut ayat 45

  • Juz 21 : QS. (29). Al-Ankabut ayat 46 s/d (33). Al-Azhab ayat 30

  • Juz 22 : QS. (33). Al-Azhab ayat 31 s/d (36). Yaasiiin ayat 27

  • Juz 23 : QS. (36). Yaasiin ayat 28 s/d (39). Az-Zumar ayat 31

  • Juz 24 : QS. (39). Az-Zumar ayat 32 s/d (41). Fushshilat ayat 46

  • Juz 25 : QS. (41). Fushshilat ayat 47 s/d (45). Al-Jaatshiyah ayat 37

  • Juz 26 : QS. (46). Al-Ahqaf ayat 1 s/d (51). Adz-Dzaariyaat ayat 30

  • Juz 27 : QS. (51). Adz-Dzaariyaat ayat 31 s/d (57). Al-Hadid ayat 29

  • Juz 28 : QS. (58). Al-Mujaadilah ayat 1 s/d (66). At-Tahrim ayat 12

  • Juz 29 : QS. (67). Al-Mulk ayat 1 s/d (77). Al-Mursalat ayat 50

  • Juz 30 : QS. (78). An-Nabaa ayat 1 s/d (114). An-Naas 6

Kamis, 18 Juni 2015

# ISLAM MENGANJURKAN UNTUK BEPERGIAN #





Saat aku menulis tulisan ini tepat pada tanggal 1 Ramadhan  1436 H atau Tanggal 18 Juni 2015, dimana umat islam sedang melakukan ibadah puasa pada hari pertama. Sepertinya aktivitas kehidupan kita selama ramadhan serba di batasi, karena tubuh kita dalam keadaan lemas karena sedang menahan lapar dan dahaga saat menjalankan puasa ramadhan yang hukumnya wajib bagi yang orang yang beriman guna menggapai takwa sebagaimana firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 183:

  أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Walapun hukumnya wajib akan tetapi Allah swt memberikan keringanan kepada orang-orang dalam keadaan tertentu seperti yang di jelaskan dalam surat Al Baqarah ayat 184


 
أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Sakit yang bagimana dan perjalanan yang bagimana ?
Dijelaskan Dibolehkan tidak berpuasa bagi orang yang sakit dan musafir dengan ketentuan-ketentuan, apabila sakit itu berat dan akan mempengaruhi keselamatan jiwa atau keselamatan sebagian anggota tubuhnya atau menambah sakitnya bila ia berpuasa; dan juga bagi orang-orang yang musafir, apabila perjalanannya itu dalam jarak jauh, yang ukurannya paling sedikit ialah 16 farsakh (kurang lebih 80 km).

Tentunya setelah ramadhan maka wajib mengganti puasa ramadhan sebanyak hari yang telah ditinggalkannya. 

 Termasuk orang-orang yang berat mengerjakan puasa itu ialah:
a) Orang tua yang tidak mampu berpuasa, bila ia tidak berpuasa diganti dengan fidyah.
b) Wanita hamil dan yang sedang menyusui bayi.
c)  Orang-orang sakit yang tidak sanggup berpuasa dan penyakitnya tidak ada harapan akan sembuh, hanya diwajibkan membayar fidyah.
d)  Mengenai buruh dan petani yang penghidupannya hanya hasil kerja keras dan membanting tulang setiap hari, dalam hal ini ulama fikih mengemukakan pendapat sebagai berikut:
1. Imam Al-Azra`i telah memberi fatwa “sesungguhnya wajib bagi orang-orang pengetam padi dan sebagainya dan yang serupa dengan mereka, berniat puasa setiap malam Ramadhan. Barang siapa (pada siang harinya) ternyata mengalami kesukaran atau penderitaan yang berat, maka ia boleh berbuka puasa. Dan kalau tidak demikian, ia tidak boleh berbuka.”
2.Kalau seseorang yang pencariannya tergantung kepada suatu pekerjaan berat untuk menutupi kebutuhan hidupnya atau kebutuhan hidup orang-orang yang harus dibelanjainya di mana ia tidak tahan berpuasa maka ia boleh berbuka di waktu itu (dengan arti harus berpuasa sejak pagi).
Kemudian pada akhir ayat 184 ini Allah menjelaskan bahwa barang siapa yang dengan rela hati mengerjakan kebajikan dengan membayar fidyah lebih dari ukurannya atau memberinya makan lebih dari seorang miskin, maka perbuatan itu baik baginya. Sesudah itu Allah menutup ayat ini dengan menekankan bahwa berpuasa itu lebih baik daripada tidak berpuasa.
Kalau orangnya sehat dan kaya tidak perbolehkan mengganti puasa ramadhan dengan membayar fidyah. 

Dalam kontek ayat ini, mengapa orang yang dalam perjalanan (safar) diberi keringanan untuk tidak berpuasa di bulan ramdhan ?. Apakah perjalanan zaman dahulu sejauh 80 KM di daerah negeri Arab yang tanahnya tandus dan penuh padang pasir dengan kendaraan onta atau kuda dengan terik matahari yang menyengat tubuh, maka pada waktu itu diperbolehkan untuk tidak berpuasa akan tetapi harus menggantinya setelah bulan ramdhan sebanyak hari yang di tinggalkannya. Hal ini memang bisa dibenarkan, akan tetapi era sekarang yang sudah memasuki zaman teknologi, dimana perjalanan beratus-ratus kilometer hanya bisa ditempuh beberapa jam saja dengan memakai pesawat terbang atau kereta api atau kendaraan yang lainnya. Kita tinggal duduk di ruang ber ac, sambil baca buku maka dalam tempo satu atau dua jam kita telah menempuh perjalanan beratus kilometer. 
Bila kita cermati, ayat perintah puasa yang wajib bisa di tunda pelaksanaanya saat kita sedang dalam perjalanan, hal kini karena maha kemurahan dan kebijaksanaannya Alllah swt. Dibalik itu semuanya ada rahasia yang begitu besar. Islam menganjurkan agar orang dalam hidupnya tidak hanya bergerak dalam satu lingkup saja, akan tetapi Islam menganjurkan agar orang melihat atau mengunjungi bumi Allah yang sangat luas dibelahan bumi manapun untuk bisa saling mengenal lingkungan yang lain, baik keadaan alamnya, cuacanya, sosial kehidupannya masyarakat yang lain, yang semuanya merupakan ke agungan Allah swt. Orang atau bangsa yang besar adalah bangsa atau orang yang senantiasa bergerak ber ekspansi mengarungi samudra yang luas dan buas untuk melakukan pencarian kehidupan yang lebih baik dengan belajar ke negeri orang untuk menimba ilmu dan teknologi bangsa lain yang telah maju. Saling menyambung silaturahmi antar suku dan ras yang berbeda. Sehingga yang diperbolehkan tidak tidak berpuasa di bulan ramadhan ketika sedang dalam perjalanan dengan tujuan untuk kebaikan dan untuk ibadah, akan tetapi bila tujuannya bepergian untuk kemaksiatan maka, akan mendapat azab yang sangat berat.
JADILAH ORANG ISLAM YANG SELALU BERGERAK UNTUK MELIHAT KEBESARAN DAN KEMAHA ESAAN ALLAH YANG TELAH MENCIPTAKAN ALAM DUNIA BESERTA ISINYA.
 

183. Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu[1] agar kamu bertakwa[2], - See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/01/tafsir-al-baqarah-ayat-183-187.html#sthash.R9AzTfey.dpuf
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (١٨٣) أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
- See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/01/tafsir-al-baqarah-ayat-183-187.html#sthash.R9AzTfey.dpuf
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (١٨٣) أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
- See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/01/tafsir-al-baqarah-ayat-183-187.html#sthash.R9AzTfey.dpuf
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (١٨٣) أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
- See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/01/tafsir-al-baqarah-ayat-183-187.html#sthash.R9AzTfey.dpuf
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (١٨٣) أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
- See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/01/tafsir-al-baqarah-ayat-183-187.html#sthash.R9AzTfey.dpuf

Rabu, 17 Juni 2015

DO'A DIBULAN RAMADHAN


 



Aku akan ceriterakan kisah percakapanku dengan guruku kurang lebih lima tahun yang lalu. Suatu malam di bulan ramdhan aku dan guruku yang mulia sedang asyik berbincang-bincang seputar malam lailatul qadr (Pembahasan malam laitul qadr akan dibahas pada sesi yang berikutnya). Pada sesi ini aku akan membicarakan bagaimana cara mendapatkan malam lailatul qadr. Guruku memberikan sebuah amalan yang setiap saat, baik dalam keadaan sehabis shalat atau sedang dalam keadaan beraktivitas sekalipun, misal sedang menyapu lantai, mencuci baju, memasak, mengepel lantai, menyeterika baju, bahkan sedang dalam keadaan bekerja di kantor, dipasar dimana saja berada bibirnya atau hatinya senantiasa berdo'a :

الشهد ان لا اله الّا الله أستغفر الله أسألك الجنّة وأعوذ بك من النّار
اللهمّ إنّك عفوّ تحبّ العفو فاعف عنّى
Asyhadu alla ilaha illallah astaghfirullah asalukaljannata waa’udzubika minannar Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul’afwa fa’fua’anni
Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, saya mohon ampun kepada Allah, saya meminta surga, dan berlindung kepada Allah dari siksa neraka. Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf sebab itu beri maaflah saya.

Kata guruku, amalan ini didapat dari ayahnya guruku. Ayah guruku seorang yang alim dan mempunyai banyak putra dan semuanya menjadi ulama dan kaya-kaya dalam hidupnya. Hampir semua putranya mempunyai pondok pesantren, salah satunya ada di kota Tegal Pondok Pesantren Daarul Hijrah Kota Tegal.

SEMOGA BISA MENGAMALKAN DAN SEMOGA MENDAPAT MALAM LAILATUL QADR ATAU MALAM SERIBU BULAN.